Langsung ke konten utama

HELICAK: "Helikopter Beroda Tiga" Pengganti Becak

Dari delman hingga Mass Rapid Transportation alias MRT, Jakarta tak pernah kehabisan cerita soal angkutan umum. Tapi, pernahkah Anda mendengar tentang helicak? Si helikopter beroda tiga yang dulunya sempat jadi ikon jalanan Ibu Kota.

Cerita kota Jakarta bukan cuma mengenai soal mewahnya gedung-gedung pencakar langit atau macetnya jalanan. Jakarta itu gudangnya cerita. Dari zaman perang sampai kisah-kisah legendaris para pahlawan. Tapi, ada satu yang agaknya mungkin terlupakan: sejarah transportasi umum di Jakarta.


Helicak Bermesin Lambretta 150 cc (Pinterest)

Dari Becak ke Helicak, Kisah Angkutan Umum Jakarta yang Tak Lekang Oleh Waktu

Jakarta, kota metropolitan yang tak pernah tidur ini, bukan cuma menyimpan segudang cerita tentang peristiwa bersejarah dan tokoh-tokoh penting. Lebih dari itu, Jakarta juga punya kisah menarik tentang sarana transportasi umum yang jadi urat nadi penggerak ekonomi bagi warga penghuninya.

Sejak dahulu, berbagai macam jenis angkutan umum silih berganti hadir di Jakarta. Salah satunya yang cukup uni adalah Helicak. 

Pernah dengar nama Helicak?   

Kendaraan umum ini dulunya hadir sebagai jawaban atas keresahan terhadap becak, yang dianggap kurang manusiawi. Nama "Helicak" itu sendiri adalah gabungan dari kata helikopter dan becak. Kenapa begitu? Ya, coba lihat saja bentuknya yang khas. Mirip perpaduan antara kokpit helikopter dengan rangka becak.

Secara resmi, Helicak mulai mengaspal di Jakarta pada 24 Maret 1971. Sebagai alternatif angkutan konvensional, Helicak ditenagai oleh mesin skuter Lambretta 150 CC buatan Italia yang mampu melaju hingga 100 km/jam. Konfigurasinya pun unik: pengemudi duduk di belakang, persis seperti tukang becak, sementara penumpang nyaman di kabin depan.

Sayangnya, masa bakti Helicak di Jakarta tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1975-an, keberadaan Helicak mulai tergantikan oleh kendaraan roda tiga yang dianggap lebih aman, yakni Bajaj. Salah satu alasan utama di balik "pensiun dini" Helicak adalah karena posisi penumpang di bagian depan dianggap berbahaya.

Meski singkat, Helicak tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah transportasi umum Jakarta yang penuh warna.

Komentar